Rabu, 27 Mei 2020

ALAT TANGKAP


TEKNOLOGI BUBU KUBAH UNTUK PENANGKAPAN RAJUNGAN KALA PERAIRAN DANGKAL




Rajungan merupakan salah satu produk perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditas ekspor dimana fenomena ini mengakibatkan tingginya aktivitas penang-kapan rajungan. Melihat kondisi tersebut timbul kekhawatiran terjadi kerusakan stok sumber-daya rajungan yang terlihat dari hasil tangkapan yang jumlahnya semakin menurun dan ukurann-ya semakin kecil. Selain itu ada indikasi bahwa hasil tangkapan rajungan menjadi hasil tangkapan buangan (discard) dari beberapa teknologi penangkapan ikan yang tidak mentargetkan rajungan sebagai tangkapan utama.

Kegiatan penangkapan rajungan dapat dilakukan dengan berbagai jenis alat penangkapan, ter-utama dari kelompok jaring (jaring klitik, trammel-net, gill-net lainnya, aneka pukat : cantrang, dogol, trawl). Alat penangkapan ini disamping kurang ramah lingkungan (kurang selektif) juga kualitas hasil tangkapannya relatif rendah (umumnya mati dan rusak), sehingga dari aspek pen-gelolaan sumberdaya, cara ini jelas lebih berdampak pada pemborosan sumberdaya. Dari segi kesehatan lingkungan, metode penangkapan tersebut cenderung akan merusak habitat dan pada gilirannya nanti komunitas rajungan pun menjadi cepat menurun. Melihat cukup beragam-nya teknologi penangkapan rajungan yang berkembang di nelayan, maka perlu adanya teknologi yang baku yang efektif untuk penangkapan rajungan.

Teknologi penangkapan yang lebih selektif dan ramah lingkungan untuk menangkap rajungan adalah bubu. Bubu merupakan salah satu alat tangkap dalam kelompok perangkap yang banyak digunakan untuk menangkap rajungan. Perangkap akan memberikan manfaat hasil tangkapan rajungan yang berkualitas baik dan dalam keadaan hidup sehingga memberikan nilai tambah

Pengoperasian bubu dengan bobot yang relatip ringan dan dioperasikan secara pasif pada lokasi aman sesuai yang dikehendaki diharapkan tidak akan memberikan dapak kerusakan lingkungan. Adapun alasan penetapan bubu sebagai alat penangkapan rajungan terkait diterbitkannya RPP perikanan rajungan dan Permen nomor 1 dan nomor 2 tahun 2015 yang antara lain dibandingkan dengan alat penangkap non Bubu, hasil tangkapan Bubu didominansi oleh rajungan (70 – 100%, berpeluang hidup lebih besar sehingga mutu lebih baik serta selektif dan ramah lingkungan seh-ingga layak untuk keberlanjutan sumberdaya.

Teknologi penangkapan yang direkomendasikan untuk menangkap rajungan pada kegiatan ino-vasi adalah bubu beralas bundar berbentuk kubah. dengan tujuan untuk meningkatkan efisien-si penangkapan rajungan dengan bubu dan untuk mengalihkan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Peran teknologi inovasi ini akan memberikan efektifitas dalam penangkapan rajun-gan sehingga akan mendukung selektifitas ukuran rajungan yang boleh ditangkap dan kelestarian lingkungan serta keberlanjutan penangkapan.

PENGERTIAN/ISTILAH/DEFINISI

Bubu adalah alat tangkap sejenis perangkap dimana ikan dan/atau target lainnya dibiarkan masuk kedalam bubu sehingga tertangkap dan sulit untuk keluar atau tidak bisa lolos lagi. Dengan per-kataan lain bubu adalah perangkap tertutup yang membiarkan sasaran tangkap masuk sehingga sulit atau tidak bisa lolos. Menurut pengertian Brandt (1972), bubu merupakan alat tangkap tiga dimensi yang memiliki ruangan yang sepenuhnya tertutup, dengan pengecualian satu atau lebih pintu masuk dilengkapi alat pencegah ikan lolos (non-return device).

Rancang bangun dan bahan bubu yang beragam mempunyai peluang untuk menangkap rajun-gan. Aneka bubu yang menangkap berbagai hewan air di dasar perairan termasuk kepiting dan rajungan adalah : ambao lipat di Tarakan, bintor di Airbangis, bintur keong di Pelabuhan Ratu dan Cilacap, blengker di Trenggalek, jodang di Pelabuhanratu, lukah di Airbangis, Rakang di Madonga (Sulsel), dan diberbagai tempat lainnya di Indonesia. Semua jenis bubu merupakan alat penang-kap ikan yang dapat dibawa dan dipindah-pindahkan, dimana dari knya

Bubu kubah untuk penangkapan rajungan adalah bubu beralas bundar berbentuk kubah yang tergolong dapat dilipat dan memiliki dua pintu samping, Beberapa istilah komponen bubu kubah sebagai berikut :


·   Kerangka bubu adalah bagian bubu yang berfungsi untuk membentuk badan bubu menjadi seperti kurungan yang terbuat dari kawat seng.

·   Badan bubu adalah bagian bubu yang berbentuk kurungan atau keranjang, yang terbuat dari webbing PE d/6 berfungsi sebagai pengurung sasaran tangkap.

·   Mulut bubu (funnel) adalah bagian bubu berbentuk lorong tempat masuknya rajungan kedalam badan bubu. Pintu bubu adalah bagian pembuka dan penutup bubu yang berfungsi untuk memasang umpan dan mengambil hasil tangkapan.

·   Engsel bubu adalah bagian bubu yang terbuat dari kawat seng berbentuk cincin, yang berfungsi untuk melipat bubu.

·   Pengunci/kancing bubu adalah bagian bubu yang terbuat dari kawat seng berbentuk kait, yang berfungsi untuk mengkaitkan/mengunci pintu bubu.

·   Tempat umpan adalah bagian bubu terbuat dari kawat seng tempat meletakkan umpan

·   Tali guci adalah tali yang digunakan untuk menggantungkan bubu.


Tahapan pengoperasian :

•  Penurunan Bubu (Setting)

Pada prinsipnya penurunan bubu terdiri dari tahapan-tahapan sebagai berikut :

·         Setelah sampai didaerah operasi, juru mudi menjalankan kapal lurus dengan posisi arah arus dari kanan kapal dengan laju kapal diperlambat. Pada saat ini posisi penurunan sudah didapat yang kemudian dengan bantuan GPS, posisi dicatat.


·         Dengan aba-aba dari juru mudi, tiang bendera tanda yang tersambung dengan tali selambar dibuang kelaut.

·         Berurutan membuang tali selambar yang tersambung langsung dengan tali utama bubu, menyusul kemudian penurunan bubu yang sudah dipasangi umpan dengan terlebih dahulu membuka lipatan bubu umpan sehingga membentuk kubah dan dikunci lipatannya. Penurunan bubu dilakukan dengan cara dilemparkan dari sebelah kanan kapal (mesin tempel kapal berada dilambung kiri).

·         Setiap setengah bagian jumlah bubu, dipasangi bendera tanda, demikian juga pada bubu yang terakhir dipasangi bendera tanda dengan tali selambar terikat pada kapal.

·         Saat setting laju kapal mengimbangi kecepatan penurunan bubu. Setelah setting selesai kapal bergeser dari posisi bubu kemudian kapal meurunkan jangkar untuk engker kemudian mesin dimatikan.








Pengangkatan (Hauling)

Adapun tahapan proses pengangkatan bubu (hauling) adalah sebagai berikut :

·         Pertama-tama mesin dihidupkan kemudian jangkar dinaikan di atas geladak kapal (ditaruh pada tempat yang sudah disediakan) selanjutnya kapal menuju bendera tanda yang ke dua, setelah mendekati sampai pada bendera ke dua laju kapal diperlambat agar awak kapal mudah mengambil dan mengangkat diatas kapal bendera tanda tersebut

·         Tali bendera ditarik ke atas kapal berikut tali selambar hingga bagian bubu.

·         Bubu kemudian satu persatu diangkat ke atas kapal dengan cara ditarik tali pengikatnya.

·         Sementara kapal dijalankan dengan kecepatan mengikuti kecepatan tarik bubu.

·         Bubu yang sudah diangkat kemudian dibuka, bila beroleh hasil tangkapan maka hasil tangkapan tersebut diambil dan langsung diletakkan kedalam keranjang, kemudian bubu dilipat dan disusun kembali dengan posisi serta urutan yang teratur.

·         Kemudian batu pemberat tali utama dinaikkan disusul pelampung bantu serta bendera tanda yang kemudian dilakukan penebaran dan perendaman bubu kembali.




Waktu Tunggu

Waktu tunggu yang dimaksud dalam hal ini adalah jarak atau lamanya waktu penurunan bubu (setting) dengan waktu pengangkatan (hauling), dimana pada saat ini bubu berarti telah masuk kedalam air, dan diperkirakan bubu telah mempunyai efektifitas penangkapan. Setelah menunggu satu malam saat yang mana diperkirakan rajungan sudah makan/masuk dalam bubu maka dilakukan penarikan atau hauling.

HASIL TANGKAPAN
Rajungan, Portunus pelagicus           Rajungan karang, Charybdis cruciata

Rajungan, Portunus pelagicus                       Rajungan bintang, Portunus sanguinolentus

Rajungan batik, Charybdis natator


KELAYAKAN FINANSIAL DAN ANALISA USAHA

Kelayakan finansial penerapan bubu kubah untuk penangkapan rajungan dicontohkan dengan operasional bubu kubah sebanyak 300 – 400 buah sehingga tanpa menggunakan alat bantu pe-narik dengan sistem pelayaran trip operasi penangkapan satu hari (one day fishing), sebagai beri-kut :

BUBU KUBAH (300 - 400 BUAH)

1. INVESTASI
Harga alat dan sarana bubu kubah
ALAT DAN SARANA
JUMLAH UNIT
HARGA SATUAN
HARGA
1.
Kasko Kapal
1

30.000.000
2. Mesin 22 PK
1
6.500.000
6.500.000
3. Mesin Bantu
1
10.500.000
10.500.000
4. Bubu Kubah
300 bh
27.500
8.250.000
4.
Tali temali
3000 m
2.000
6.000.000
5.
Alat perebus
1
2.000.000
2.000.000
TOTAL


62.350.000

2. BIAYA (COST)

a. Biaya Tidak Tetap (Variable Cost)

Biaya eksploitasi :



- Solar
= 10 x 26 x 10 x 6.500
= 16.900.000
- Oli
= 0,25x 26 x 10 x 11.000
=
715.000
- Perbekalan ABK
= 2 x 26 x 10 x 5.000
=
2.600.000
Biaya Tidak Tetap Per Tahun
= 20.215.000

b. Biaya Tetap (Fixed Cost)

1.) Biaya Penyusutan Per Tahun

SARANA PENANGKAPAN
UMUR TEKNIS
HARGA
PENYUSUTAN /TH
- Kasko Kapal
10 th
30.000.000
3.000.000
- Mesin
5th
6.500.000
1.300.000
- Mesin Bantu
5 th
10.500.000
2.100.000
- Bubu Kubah
2 th
8.250.000
4.125.000
- Tali Temali
3 th
6.000.000
2.000.000
- Alat perebus
4 th
2.000.000
500.000
TOTAL


13.025.000

2.) Biaya Perawatan

- Perawatan kapal
1.000.000
- Perawatan mesin
1.500.000
- Perawatan Bubu
500.000
TOTAL
3.000.000


3.) Biaya Administrasi

- Pas Biru
25.000
- SIUP
100.000
TOTAL
125.000

4.) Bunga Bank

16,5% x Biaya Investasi
= 10.287.750
Jumlah Biaya Tetap (FC)

(1+2+3+4)
= 16.150.000

c. Total Biaya

Biaya tidak tetap + Biaya tetap = 36.365.000

3. PENDAPATAN

a. Penjualan Hasil Tangkap

15 x 26 x 10 x 60.000 = 234.000.000
Restribusi 5% = 11.700.000
Penjualan – Restribusi = 222 300.000
Tabungan 2% = 4.446.000
Hasil Jual = 217.854.000

Hasil Jual – Eksploitasi = 161.504.000

b. Bagi Hasil

- Bagi Hasil ABK (40%)
= 64.601.600
- Bagi Hasil Pemilik (60%) = 96.902.400


c. Pendapatan Pemilik

Keuntungan Pemilik     = Bagi Hasil Pemilik – Biaya Tetap
     96.902.400 – 16.150.000
     80.752.400

•    ANALISA KELAYAKAN USAHA

        Arus Kas (Cash Flow)

Arus Kas = Pendapatan + Penyusutan
•  80.752.400 + 13.025.000
•  93.777.400

b. Rentabilitas Ekonomi

Pendapatan
RE  =  ------------------ x 100 %

Investasi

     129,51 %

c. B/C Ratio

Pendapatan
B/C =      ---------------------------------------

FC + VC + Pendapatan ABK

161.504.000
B/C =     ----------------------------------------------------

16.150.000 + 20.215.000 + 64.601.600 B/C Ratio = 1,6 > 1
d. Pay Back Period


Investasi
62.350.000
PBP =
----------------
= -----------------

Arus Kas
93.777.400
= 0,66 th

=
8 bulan


e. Break Even Point

BEP (Rupiah) = 17 658 958

Titik impas hasil ketika tidak rugi dan tidak untung cukup diperlukan hasil selama setahun senilai Rp. 17.659.000,00 atau dengan nilai rata-rata hasil tangkap harian Rp. 68.000,00 setara dengan hasil tangkap 1,13 kg rajungan dalam setiap harinya. Berdasarkan perhitungan hasil laju tangkap 300 bubu perhari, pada kedalaman 10 – 20 meter dapat 3,4 kh/hari, pada kedalaman 30 – 35 m hasilnya 10,2 kg/hari dan pada kedalaman 40 – 45 m dapat diperoleh 12,8 kg rajungan segar.


Sumber : Rekomendasi Teknologi 2015 Kementrian Kelautan dan Perikanan

Selasa, 26 Mei 2020

BUDIDAYA NILA SRIKANDI DI TAMBAK


TEKNOLOGI PEMBESARAN IKAN NILA SRIKANDI DI TAMBAK SECARA SEMI INTENSIF



Ikan nila Srikandi yaitu strain ikan nila unggul toleran salinitas tinggi hingga 30 ppt. Ikan nila srikandi merupakan hasil pemuliaan Balai Penelitian Pemulian Ikan (BPPI) Sukamandi. Ikan nila Srikandi ini dibuat dengan tujuan untuk mendapatkan strain ikan nila yang mampu tumbuh cepat di perairan payau sehingga dapat dibudidayakan di kawasan pesisir.

Ikan nila Srikandi merupakan hasil perkawinan silang antara ikan nila hitam (Oreochromis nilo-ticus) betina dengan ikan nila biru (Oreochromis aureus) jantan. Ikan nila hitam yang digunakan merupakan strain ikan nila unggul hasil seleksi yang mempunyai keunggulan dapat tumbuh ce-pat pada perairan tawar, sedangkan ikan nila biru mempunyai keunggulan berupa daya toleransi yang tinggi di perairan payau. Persilangan antara kedua spesies tersebut menghasilkan ikan nila Srikandi yang mempunyai karakter tumbuh cepat di perairan payau hingga salinitas 30 ppt. Per-forma ikan nila Srikandi lebih unggul dibandingkan strain ikan nila lainnya pada saat pengujian multilokasi. Ikan nila Srikandi dirilis sebagai strain unggul berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.09/MEN/2012.


Pembesaran ikan nila di tambak secara semi intensif merupakan kegiatan pembesaran ikan nila yang dilakukan di perairan payau di kawasan tambak dengan menerapkan padat tebar yang opti-mal dengan pemberian pakan komersial secara rutin.

Persyaratan Teknis Pembesaran ikan sri kandi di tambak

Teknologi pembesaran ikan nila Srikandi secara semi intensif di tambak sebagai upaya peningkatan produktivitas hasil panen memerlukan beberapa persyaratan spesifik. Persyaratan utama yang harus dipenuhi adalah kondisi salinitas yang harus dipertahankan pada kisaran dibawah 30 ppt. Pada salinitas yang lebih tinggi antara 30 hingga 40 ppt terjadi gangguan pertumbuhan ikan nila meskipun sebagian besar ikan dapat bertahan hidup. Secara umum teknologi budidaya ini membutuhkan berapa persyaratan teknis yang dikelompokkan sebagai berikut :

Persyaratan tambak :

Ukuran tambak pembesaran bervariasi antara 2.000-10.000 m2. Tambak yang digunakan sebagai tempat pemeliharaan harus mempunyai saluran pemasukan yang sewaktu-waktu digunakan untuk menjaga kuantitas dan kualitas air tambak. Saluran pemasukan digunakan untuk memasukkan air laut pada saat pasang untuk menaikkan salinitas air tambak apabila diperlukan. Pada umumnya kualitas air tambak akan menurun pada bulan ke tiga pemeliharaan. Saluran pemasukan dari saluran irigasi atau sungai diperlukan untuk mempertahankan salinitas agar berada pada kisaran di bawah 30 ppt. Tambak di pesisir pantai umumnya mempunyai struktur tanah yang labil terutama bagian tepinya sehingga sebelum penebaran dilakukan perbaikan pematang dan saluran air. Perbaikan pematang dilakukan untuk menghindari kebocoran air selama pemeliharaan.

Air pemeliharaan :

Air pemeliharaan diupayakan pada kisaran salinitas 10-30 ppt. Sumber air yang digunakan untuk mengisi tambak dapat menggunakan air laut yang dimasukkan pada saat pasang tinggi atau dengan air sungai/irigasi yang bebas dari cemaran bahan kimia berbahaya.

Benih :

Benih yang digunakan merupakan benih ikan nila unggul Srikandi. Benih sebaiknya berukuran 3-5 atau 5-7 cm yang sudah diaklimatisasi hingga mendekati salinitas tambak pembesaran. Perbedaan salinitas tambak dengan media aklimatisasi < 5 ppt untuk menghindari stress pada benih ikan.

Pakan :

Pakan yang digunakan yaitu pakan komersial pelet apung dengan kadar protein 25-30 %, berukuran sekitar 2 mm pada bulan pertama penebaran dilanjutkan pakan berukuran 3


·         Pergantian pemberian pakan 2 dan 3 mm dilakukan dengan mencampur sedikit semi sedikit pakan berukuran 3 mm dan menyesuaikan kondisi ikan.

·         Persyaratan teknis lainnya dituangkan dalam SOP yang disusun berdasarkan urutan pekerjaan yang dilakukan.

Uraian cakupan teknologi yang terdiri dari komponen-komponen teknologinya

Teknologi pembesaran ikan nila Srikandi secara semi intensif di tambak sebagai upaya peningkatan produktivitas usaha pembesaran ikan nila ini terdiri dari serangkaian tahap kegiatan mulai dari persiapan tambak, aklimatisasi dan penebaran benih, pemberian pakan, manajemen kualitas air dan pemanenan.

Cara penerapan teknologi yang diurut mulai persiapan sampai aplikasi

Persiapan tambak:
Persiapan tambak berpengaruh besar pada pembesaran ikan nila Srikandi secara semi intensif. Persiapan tambak meliputi beberapa tahap yaitu :

·    Pengeringan air tambak, dilakukan untuk membuang air yang menggenang di tambak agar dapat dilakukan perbaikan pematang, pengangkatan lumpur dan perbaikan saluran air. Pada sebagian tambak yang jauh dari tepi pantai, pengeringan tambak dapat dilakukan sampai kering selama 4-7 hari hingga bagian dasar retak-retak.


·        Perbaikan pematang tambak, saluran air serta pemasangan saringan dengan mesh-size 1 mm dan 2,5 mm pada pintu pemasukan dan pengeluaran air untuk mencegah ikan predator masuk ke tambak

·    Pembasmian hama seperti ikan predator dapat dilakukan dengan pengeringan tambak. Namun demikian, pada umumnya tambak sulit dikeringkan sehingga diperlukan proses pembasmian hama dilakukan dengan menggunakan saponin dengan dosis 10-30 g/m2. Pemberian saponin dilakukan pada ketinggian air antara 10-20 cm dan dibiarkan selama 3-5 hari.

·        Pengapuran tepi dan dasar tambak, dilakukan dengan menebarkan kapur pertanian (CaCO3) dengan dosis 500-1.000 kg/Ha dan dibiarkan selama 3-4 hari. Pemberian kapur diperlukan untuk mengurangi keasaman tanah sekaligus sebagai desinfektan patogen.


·        Pengisian air tambak, dilakukan dengan mengalirkan air ke saluran pemasukan dari sungai/irigasi hingga ke dalaman air tambak antara 30-50 cm. Selanjutnya dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk organik atau anorganik sebagai sumber nitrogen dan phospat dengan perbandingan 4:1 dan dibiarkan selama 4-7 hari atau hingga air tambak berwarna kehijauan. Pemupukan dapat menggunakan pupuk cair komersial dengan dosis sesuai aturan yang tertera dalam kemasan produk.

·        Pengisian air hingga kedalaman air tambak minimal 80 cm dan dibiarkan selama 3-5 hari.




Aklimatisasi dan penebaran benih :

Aklimatisasi benih merupakan proses adaptasi benih dari kolam air tawar ke perairan tambak dengan salinitas tinggi. Proses adaptasi meliputi :

·        Pemberokan ikan sebelum pemanenan selama 1,5 hari

·        Penyiapan bak penampungan dengan salinitas 10 ppt

·        Pemanenan benih pada pagi atau sore hari untuk menghindari stress

·        Penampungan dalam bak beraerasi kuat dengan padat tebar 5.000 ekor/m2 pada benih ukuran 3-5 cm atau padat tebar 2.500 ekor/m2 pada benih berukuran 5-7 cm. Aerasi diperlukan untuk menjaga kandungan oksigen terlarut minimal 3 mg/l

·        Meningkatkan salinitas media penampungan sebanyak 5 ppt per hari hingga salinitas sama dengan salinitas tambak pembesaran

·        Penebaran benih dilakukan dengan padat tebar 10-15 ekor/m2. Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari ketika suhu udara tidak terlalu tinggi dan dilakukan secara hati-hati agar benih tidak stress. Apabila menggunakan kantong kemasan tertutup diperlukan penyesuaian suhu dengan menempatkan kantong kemasan plastik di air tambak selama kurang lebih 5-10 menit atau hingga temperatur relatif sama.

Pemberian pakan :
·        Pakan yang digunakan yaitu pakan komersial pelet apung dengan kadar protein 25-30 %.

·        Pemberian pakan dilakukan sehari setelah penebaran karena pada awal penebaran nafsu makan ikan masih rendah dan masih dalam proses penyesuaian dengan lingkungan tambak.

·        Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari pada pagi hari antara pukul 08.00-10.00 dan sore hari antara pukul 16.00-17.00. Pada bulan pertama diberikan pakan dengan diameter 2 mm dengan feeding rate (FR) 5-8 % dari biomassa ikan. Pada bulan ke dua hingga menjelang panen diberikan pakan berukuran 3 mm, dengan FR 3-5 % biomassa pada bulan ke dua dan 2-3 % biomassa pada bulan berikutnya.

·        Biomassa ikan dihitung melalui sampling.

·        Pemberian pakan harus memperhatikan kondisi lingkungan berkaitan dengan nafsu makan ikan. Pada saat mendung maka jumlah pakan sedikit dikurangi dari jumlah yang ditentukan karena nafsu makan ikan nila menurun. Pemberian pakan tidak boleh berlebih agar sisa pemberian pakan tidak mencemari dan mengganggu kualitas air tambak.


Manajemen kualitas air dan kesehatan ikan :
·    Selama pemeliharaan dilakukan pemantauan kualitas air tambak agar kesehatan ikan terjaga. Manajemen kualitas (Tabel 1) air dilakukan agar memenuhi persyaratan kesehatan ikan :


Nilai Parameter Kualitas Air Ideal
No
Parameter
Satuan
Nilai




1
Suhu
0C
27–32
2
Kandungan oksigen terlarut
mg/l
> 3
3
pH
-
6,5-9
4
Nitrit
mg/l
< 0,5
5
Amoniak
mg/l
< 0,1
6
Salinitas
g/l
10-30

·        Parameter kualitas air yang berpengaruh besar di tambak adalah salinitas air. Adanya fluktuasi salinitas secara mendadak lebih dari 5 ppt akibat hujan deras dapat mempengaruhi kesehatan ikan. Apabila salinitas mulai berubah maka harus segera dilakukan penanganan dengan memasukkan air baru sehingga salinitas tetap terjaga. Monitoring kesehatan ikan terkait dengan kualitas air dapat dilakukan sesuai tabel berikut :
Frekuensi Kegiatan Monitoring Kesehatan Ikan

No
Parameter
Frekuensi (minimal)



1
Kualitas air


-
pH
Sesuai kebutuhan *)

-
Salinitas
Sesuai kebutuhan *)

-
DO
Sesuai kebutuhan *)
2
Pertumbuhan Pakan Alami
Setiap minggu

(melihat warna dan kecerahan air)

3
Respon pakan
Setiap pemberian pakan
4
Pertumbuhan ikan
Setiap bulan
5
Kesehatan ikan secara visual
Setiap hari
*) apabila terjadi perubahan cuaca secara mendadak

·    Data hasil monitoring dianalisis untuk digunakan sebagai dasar dalam pengelolaan kualitas air, kesehatan, dan pemberian pakan serta untuk perencanaan dalam pemeliharaan selanjutnya. Seluruh data hasil monitoring dicatat atau direkam sehingga terdapat dokumentasi yang lengkap dan dapat ditelusuri.

Pemanenan:
·        Pemanenan ikan dilakukan dengan menurunkan ketinggian air hingga ketinggian 10-20 cm sehingga ikan akan berkumpul di caren

·        Selanjutnya dilakukan penangkapan ikan menggunakan jaring

·   Panen dapat dilakukan secara total atau bertahap dengan memilih ikan yang ukurannya sesuai. Pemeliharaan selama 3-4 bulan akan menghasilkan rerata bobot antara 200-250 gram/ekor dengan sintasan +80 %.


KEUNGGULAN

Uraian tentang teknologi

Teknologi pembesaran ikan nila Srikandi secara semi intensif di tambak ini merupakan teknologi yang dimodifikasi dari teknologi budidaya ikan nila Srikandi dan mengacu pada SNI 7550:2009 tentang Produksi ikan nila (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas pembesaran di kolam air tenang. Teknologi budidaya ikan nila Srikandi disusun sebagai pedoman pemeliharaan ikan nila Srikandi pada lahan marginal atau sub-optimal dengan padat tebar rendah dengan mempertimbankan daya dukung lingkungan sekitar. Modifikasi teknologi ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ikan nila Srikandi pada lahan tambak yang lebih terkontrol. Peningkatan produktivitas melalui penambahan padat tebar serta pemberian pakan buatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil panen yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan pembudidaya.

Uraian keberhasilan teknologi

Ikan nila Srikandi dapat dimanfaatkan sebagai komoditas unggulan pada pembesaran di kawasan pesisir dengan salinitas sedang hingga tinggi. Pada pembesaran di tambak, ikan nila Srikandi tumbuh lebih baik dibandingkan ikan nila air tawar pada umumnya. Ikan nila Srikandi mempunyai karakter hibrid vigour dengan performa yang lebih baik dari rerata tetuanya pada karakter pertumbuhan dan sintasan. Penggunaan ikan nila Srikandi pada kawasan pesisir akan meningkatkan produktivitas lahan dengan meningkatnya hasil panen dibandingkan strain lainnya. Namun demikian, penggunaan padat tebar rendah antara 1-5 ekor/m2 pada pedoman budidaya tersebut menghasilkan produktivitas panen yang masih relatif rendah antara 3-6 ton/ha.

Peningkatan padat tebar diatas 5 ekor/m2 yang digunakan pada teknologi ini berdampak pada peningkatan hasil panen per satuan luas tambak. Ikan nila Srikandi yang dibesarkan pada tambak bersalinitas sedang hingga tinggi pada salinitas 30 ppt menunjukkan performa yang baik dan dapat mencapai ukuran 150-200 gram dalam waktu 3 bulan pemeliharaan. Pada akhir pemeliharaan diperoleh rerata sintasan + 70 % dan biomassa panen sekitar 10,5 ton/ha.

Penerapan teknologi ini membutuhkan input pakan komersial yang cukup tinggi apabila dibandingkan dengan metode pembesaran ekstensif yang biasa diterapkan oleh para petambak. Pemberian pakan komersial secara rutin akan berdampak pada peningkatan modal usaha. Aplikasi berbagai teknologi pakan buatan yang sudah dikembangkan dapat diterapkan untuk menekan kebutuhan pakan komersial.


Produksi ikan nila Srikandi secara semi intensif dapat menghasilkan biomassa panen yang lebih tinggi dibandingkan ikan nila lokal pada umumnya yang menghasilkan panen kurang dari 2 ton/ha. Rendahnya hasil panen nila lokal di tambak disebabkan oleh kematian massal apabila salinitas di atas 15 ppt, sehingga ikan yang bertahan pada umumnya yang berukuran kecil dalam jumlah sedikit.

Pembesaran ikan nila Srikandi secara semi intensif di tambak selain meningkatkan produktivitas panen juga memberikan keunggulan dibandingkan pada pembesaran di kolam air tawar. Beberapa keunggulan ikan nila Srikandi hasil pembesaran di tambak adalah :

Toleran terhadap salinitas tinggi hingga 30 ppt

Benih ikan nila Srikandi yang sudah diaklimatisasi sesuai salinitas tambak dapat hidup dengan baik pada salinitas tinggi hingga 30 ppt dengan nilai sintasan + 70 %. Hal ini berbeda dengan ikan nila pada umumnya yang mengalami tingkat kematian tinggi dengan sintasan rendah dibawah 30 % pada salinitas diatas 15 ppt.





Pertumbuhan cepat, dapat mencapai ukuran 200 gram dalam waktu 3 bulan.

Ikan nila ini dipelihara di tambak dapat mencapai ukuran 200 gram dalam waktu 3 bulan seperti halnya pada pemeliharaan di kolam air tawar.

Kandungan protein tinggi

Hasil pengujian kualitas daging menunjukkan kandungan protein yang lebih tinggi atau pada kisaran 21 % pada pemeliharaan di tambak bersalinitas tinggi sehingga baik dikonsumsi sebagai bahan pangan sumber protein hewani.

Kandungan asam lemak omega 3 dan 6 tinggi

Hasil analisa kualitas daging menunjukkan kandungan asam lemak omega 3 dan 6 yang tinggi pada pemeliharaan di tambak. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya sumber pakan alami yang mengandung omega 3 dan 6 pada lingkungan pemeliharaannya. Kandungan asam lemak omega 3 mencapai 105,69+37,82 mg/100g daging, sedangkan kandungan asam lemak omega 6 mencapai 233,76+57,74 mg/100g daging. Konsumsi bahan pangan yang mengandung asam lemak omega 3 dan 6 baik bagi kecerdasan, fungsi otak dan kesehatan.

Cita rasa daging lebih enak

Ikan nila Srikandi yang dibesarkan di tambak lebih mempunyai cita rasa daging yang enak, gurih serta mempunyai tekstur daging yang kenyal. Hal ini menyebabkan hasil tambak ikan nila Srikandi lebih banyak dicari konsumen.

Secara umum ikan nila Srikandi mempunyai keunggulan pertumbuhan cepat pada perairan tambak apabila dibandingkan ikan nila lainnya sehingga berdampak pada produktivitas panen. Saat ini terdapat dua strain ikan nila yang sudah dirilis secara resmi yang dikhususkan untuk pembesaran ikan nila di lahan bersalinitas. Strain ikan nila lainnya yang sudah dirilis untuk budidaya di tambak adalah ikan nila Salina (NOMOR. 22/KEPMEN-KP/2014). Ikan nila salina dibentuk melalui hibridisasi antara ikan nila merah betina dengan ikan nila hitam jantan dan dapat digunakan untuk pembesaran pada tambak bersalinitas 20-25 ppt.

Ikan nila Srikandi mempunyai keunggulan yang lebih baik terutama pada toleransi salinitasnya yang dapat dibesarkan pada tambak bersalinitas tinggi hingga 30 ppt. Hal ini disebabkan kombinasi ikan nila yang digunakan adalah ikan nila hitam betina dan ikan nila biru jantan. Ikan nila biru mempunyai toleransi salinitas yang lebih tinggi dibandingkan ikan nila merah, namun lebih rendah dibandingkan mujair.

Mudah diterapkan dalam sistem usaha

Pembesaran ikan nila Srikandi secara semi intensif di tambak tidak memerlukan penggunakan peralatan ataupun teknologi budidaya yang spesifik. Sebagian besar tambak dengan infrastruktur yang ada secara umum dapat digunakan untuk kegiatan pembesaran ikan nila secara semi intensif.


 KELAYAKAN FINANSIAL DAN ANALISA USAHA

Penerapan teknologi pembesaran ikan nila Srikandi secara semi intensif di tambak ini layak se-cara ekonomis. Penerapan tenologi ini tidak memerlukan biaya besar namun dapat memberi-kan keuntungan yang optimal dengan adanya peningkatan produktivitas panen. Budidaya yang dilakukan secara semi intensif dapat menekan kebutuhan pakan buatan karena kondisi di tambak pada umumnya kaya pakan alami yang beragam jumlah dan jenisnya. Ikan nila bersifat omnivora dan dapat memanfaatkan semua jenis makanan yang ada di perairan. Budidaya ikan nila secara semi intensif dapat diterapkan oleh pembudidaya di kawasan pesisir.


Analisis usaha pembesaran ikan nila Srikandi:
Analisa usaha pembesaran dihitung dalam waktu 4 bulan dengan menggunakan lahan tambak seluas 1 Ha. Pembesaran dilakukan dengan menerapkan prosedur pembesaran sehingga dapat menghasilkan ikan nila konsumsi berukuran +200 gram dalam waktu 4 bulan. Rerata sintasan hasil panen 70 %. Pakan komersil yang digunakan mengandung protein >25 %, dengan penumbu-han pakan alami di tambak yang cukup maka FCR pakan buatan dapat ditekan.

Rerata hasil panen dengan mengacu pada SPO pembesaran

Parameter
Satuan
Padat tebar 10 ekor/m2
Luas lahan
m2
10.000
Jumlah tebar
ekor
100.000
Jumlah akhir
ekor
70.000
Rerata bobot
gram
150-200
Biomassa panen*
Kg
10.500
Produktivitas*
ton/Ha
10,5
·  Kondisi tambak optimal dengan waktu pemeliharaan 3 bulan dan SR 70 %

Sumber :  Buku Rekomendasi Teknologi 2015 Kementrian Kelautan dan Perikanan RI